AKI dan AKB: Masalah Kesehatan yang Sering Terabaikan

Article 20 Jan 2026 |
Penulis : Salma Fitri
Kedekatan ibu dan bayi baru lahir sebagai simbol pentingnya kehamilan dan persalinan yang aman

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) kerap muncul dalam laporan kesehatan. Namun di balik angka-angka tersebut, ada kisah tentang ibu yang tidak sempat kembali ke rumah, dan bayi yang tidak sempat tumbuh besar.

AKI dan AKB bukan sekadar indikator statistik. Keduanya mencerminkan seberapa aman kehamilan dan persalinan dijalani, serta seberapa siap sistem kesehatan dan lingkungan dalam melindungi ibu dan bayi.

Apa Itu AKI dan AKB?

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah jumlah kematian perempuan yang terjadi selama kehamilan, saat persalinan, atau dalam waktu 42 hari setelah melahirkan, akibat kondisi yang berkaitan dengan atau diperberat oleh kehamilan dan persalinan. Sementara itu, Angka Kematian Bayi (AKB) menggambarkan jumlah bayi yang meninggal sebelum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup.

Mengapa AKI dan AKB Masih Terjadi?

Tingginya AKI dan AKB sering kali mencerminkan masalah yang lebih luas, mulai dari status gizi perempuan, kualitas layanan kesehatan, hingga kesiapan keluarga dan lingkungan dalam mendukung kehamilan dan persalinan yang aman.

1. Masalah Medis

Penyebab langsung kematian ibu paling sering adalah perdarahan, preeklamsia, infeksi, serta komplikasi persalinan. Pada bayi, risiko kematian meningkat akibat kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, kekurangan oksigen saat lahir, dan infeksi.

Masalahnya, banyak kondisi ini baru ditangani ketika sudah berat, atau terlambat dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memadai. Padahal, sebagian besar komplikasi dapat dicegah atau dikendalikan jika terdeteksi sejak dini.

2. Masalah Gizi

Gizi sering tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata. Berikut beberapa masalah gizi yang meningkatkan risiko terjadinya kematian ibu dan bayi:

  1. Ibu hamil dengan anemia memiliki risiko lebih tinggi mengalami perdarahan dan komplikasi saat persalinan.

  2. Kekurangan energi kronis meningkatkan kemungkinan bayi lahir dengan berat badan rendah dan kondisi kesehatan yang lemah sejak awal kehidupan.

3. Akses Layanan Kesehatan

Tidak semua ibu memiliki akses yang sama terhadap layanan kesehatan. Jarak fasilitas kesehatan yang jauh, keterbatasan biaya, kurangnya informasi, atau minimnya tenaga kesehatan menyebabkan pemeriksaan kehamilan tidak dilakukan secara rutin.

Akibatnya, risiko kehamilan sering tidak terdeteksi sejak awal dan baru diketahui ketika kondisi sudah memburuk.

Faktor Risiko Terjadinya Kematian Ibu dan Bayi

Beberapa kondisi membuat risiko kematian ibu dan bayi menjadi lebih tinggi.

1. Usia Ibu

Usia ibu yang terlalu muda atau terlalu tua merupakan salah satu faktor penting. Kehamilan di usia remaja terjadi ketika tubuh belum sepenuhnya siap secara fisik, sedangkan kehamilan di atas usia 35 tahun sering disertai penyakit penyerta yang meningkatkan risiko komplikasi.

2. Anemia

Anemia juga menjadi faktor risiko yang sering ditemukan. Kekurangan zat besi membuat ibu mudah lelah, lebih rentan terhadap infeksi, dan berisiko tinggi mengalami perdarahan saat melahirkan.

3. Jarak Kehamilan

Jarak kehamilan yang terlalu dekat turut memperbesar risiko. Tubuh ibu membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi dan cadangan gizi setelah kehamilan sebelumnya. Tanpa pemulihan yang cukup, kehamilan berikutnya menjadi lebih berisiko bagi ibu dan bayi.

Peran Penting Gizi dan Pemeriksaan Kehamilan

Gizi selama kehamilan bukan sekadar soal makan lebih banyak, melainkan makan dengan lebih tepat. Asupan energi, protein, zat besi, asam folat, kalsium, serta berbagai mikronutrien berperan penting dalam menjaga kesehatan ibu dan mendukung pertumbuhan janin secara optimal.

Di sisi lain, pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC) berfungsi sebagai sistem peringatan dini. Melalui ANC, tenaga kesehatan dapat memantau tekanan darah, status gizi ibu, pertumbuhan janin, serta memberikan edukasi mengenai tanda bahaya kehamilan.

Kehamilan yang dipantau secara rutin memberi peluang lebih besar untuk mencegah komplikasi sebelum berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mencegahnya?

Upaya pencegahan AKI dan AKB idealnya dimulai bahkan sebelum kehamilan terjadi. Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan antara lain:

1. Menjaga Status Gizi dan Kesehatan Sejak Remaja

Remaja putri dan calon ibu perlu memastikan asupan gizi yang cukup, terutama zat besi, protein, dan mikronutrien penting, agar tubuh siap menghadapi kehamilan.

2. Menerapkan Pola Makan Bergizi Seimbang Selama Kehamilan

Ibu hamil dianjurkan mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi untuk mendukung kesehatan ibu serta pertumbuhan janin secara optimal.

3. Mengonsumsi Suplemen Sesuai Anjuran Tenaga Kesehatan

Suplemen seperti zat besi, asam folat, dan kalsium membantu mencegah anemia dan komplikasi kehamilan bila dikonsumsi secara teratur sesuai rekomendasi.

4. Melakukan Pemeriksaan Kehamilan secara Rutin

Pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC) penting untuk mendeteksi risiko sejak dini dan memastikan kondisi ibu serta janin terpantau dengan baik.

5. Mengatur Jarak Kehamilan yang Aman

Memberi jeda yang cukup antar kehamilan membantu tubuh ibu pulih dan mengurangi risiko komplikasi pada kehamilan berikutnya.

6. Melahirkan di Fasilitas Kesehatan dengan Tenaga Terlatih

Persalinan yang ditangani oleh tenaga kesehatan terlatih meningkatkan keselamatan ibu dan bayi, terutama bila terjadi kondisi darurat.

7. Mengenali dan Merespons Tanda Bahaya Kehamilan

Ibu dan keluarga perlu mengetahui tanda bahaya kehamilan dan segera mencari pertolongan medis bila gejala tersebut muncul.

Kesehatan Ibu

Kesehatan Anak

ic-brand
Tunggu sebentar