Bayi Prematur: Risiko, Dampak, dan Upaya Pencegahannya

Article 28 Jan 2026 |
Penulis : Salma Fitri
Bayi prematur mendapatkan perawatan intensif di ruang neonatal rumah sakit.

Tidak semua bayi menunggu hingga waktunya tiba untuk lahir ke dunia. Sebagian bayi harus lahir lebih cepat dari yang seharusnya. Bayi yang lahir sebelum waktunya inilah yang dikenal sebagai bayi prematur.

Kelahiran prematur masih menjadi tantangan besar dalam kesehatan ibu dan anak. Bayi yang lahir terlalu dini memiliki risiko kesehatan yang lebih tinggi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Meski demikian, jika bayi prematur mendapatkan penanganan yang tepat, mereka tetap dapat tumbuh sehat dan berkembang dengan baik.

Berapa Umur Bayi Dikatakan Lahir Prematur?

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Berdasarkan usia kehamilan, bayi prematur dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

  1. Prematur sedang hingga akhir (32–36 minggu)

  2. Prematur sangat dini (28–31 minggu)

  3. Prematur ekstrem (kurang dari 28 minggu)

Semakin muda usia kehamilan saat lahir, semakin tinggi risiko masalah kesehatan yang dapat dialami bayi.

Apa yang Dapat Memicu Kelahiran Prematur?

Berikut beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko kelahiran bayi prematur:

1. Faktor Demografis Ibu

Usia ibu yang terlalu muda (di bawah 18 tahun) atau lebih dari 35 tahun diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur.

2. Faktor Kesehatan Ibu

Kondisi kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan sangat berpengaruh terhadap waktu persalinan. Infeksi selama kehamilan, tekanan darah tinggi, diabetes, anemia, serta preeklamsia dapat memicu persalinan lebih awal. Selain itu, berat badan ibu sebelum hamil yang terlalu rendah (underweight) atau berlebih (obesitas) juga dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur.

3. Kondisi Kehamilan

Kehamilan kembar, jarak kehamilan yang terlalu dekat, riwayat persalinan prematur sebelumnya, serta kehamilan yang terjadi melalui program bayi tabung (IVF) diketahui dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur.

4. Gaya Hidup Selama Kehamilan

Kebiasaan dan kondisi ibu selama hamil turut memengaruhi risiko kelahiran prematur. Merokok atau terpapar asap rokok, konsumsi alkohol, asupan gizi yang kurang, stres berat, serta kelelahan fisik yang berlebihan dapat meningkatkan kemungkinan bayi lahir sebelum waktunya.

Apa yang Terjadi Jika Bayi Lahir Prematur?

Bayi yang lahir sebelum cukup bulan (sebelum usia kehamilan 37 minggu) lebih rentan mengalami berbagai masalah kesehatan karena organ tubuhnya belum berkembang sempurna. Semakin dini bayi dilahirkan, semakin tinggi risiko masalah kesehatan yang dapat terjadi.

Bayi prematur dapat mengalami kesulitan bernapas akibat paru-paru yang belum matang, kesulitan menyusu karena belum optimalnya kemampuan mengisap dan menelan, serta kesulitan menjaga suhu tubuh. Selain itu, sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang membuat bayi prematur lebih mudah terkena infeksi.

Oleh karena itu, banyak bayi prematur memerlukan perawatan khusus setelah lahir, biasanya di ruang perawatan neonatal seperti NICU (Neonatal Intensive Care Unit), untuk membantu proses adaptasi di luar kandungan.

Bagaimana Mencegah Kelahiran Bayi Prematur?

Pencegahan kelahiran prematur dimulai dari kehamilan yang sehat. Pemeriksaan kehamilan secara rutin memungkinkan tenaga kesehatan mendeteksi dini faktor risiko dan menangani masalah sejak awal. Ibu hamil juga dianjurkan untuk menjaga asupan gizi seimbang, cukup istirahat, serta menghindari rokok, alkohol, dan zat berbahaya lainnya.

Selain itu, pengelolaan penyakit kronis, penanganan infeksi secara tepat, serta dukungan terhadap kesehatan mental ibu selama kehamilan berperan penting dalam menurunkan risiko persalinan prematur.

Kesehatan Anak

ic-brand
Tunggu sebentar