Hari-hari pertama setelah kelahiran adalah masa penuh adaptasi, baik bagi orang tua maupun bayi. Di tengah proses ini, sebagian orang tua mulai menyadari satu hal yang cukup membuat khawatir, yaitu kulit bayi tampak kekuningan. Kondisi ini sering disebut sebagai bayi kuning.
Apa Itu Bayi Kuning?
Bayi kuning atau dalam istilah medis disebut ikterus neonatorum, adalah kondisi ketika kulit dan bagian putih mata bayi terlihat berwarna kuning. Warna ini berasal dari bilirubin, yaitu zat sisa berwarna kuning yang terbentuk saat sel darah merah dipecah.
Pada orang dewasa, bilirubin akan diproses oleh hati dan dibuang melalui feses dan urine. Namun pada bayi baru lahir, terutama di minggu pertama kehidupan, fungsi hati belum bekerja optimal. Akibatnya, bilirubin bisa menumpuk sementara di dalam tubuh dan memunculkan warna kuning pada kulit bayi.
Faktor Risiko Bayi Kuning
Tidak semua bayi memiliki risiko yang sama untuk mengalami bayi kuning. Pada sebagian bayi, kondisi ini muncul sebagai bagian dari proses adaptasi yang normal. Namun pada bayi lainnya, ada faktor-faktor tertentu yang membuat kadar bilirubin lebih mudah meningkat dan perlu dipantau lebih ketat:
1. Usia Kehamilan
Bayi yang lahir prematur berisiko sekitar 2 kali lebih tinggi mengalami bayi kuning karena fungsi hati mereka belum matang sepenuhnya. Akibatnya, proses pemecahan dan pembuangan bilirubin berjalan lebih lambat dibandingkan bayi cukup bulan.
2. Asupan ASI
Faktor risiko lainnya adalah asupan ASI yang belum optimal di hari-hari awal kehidupan. Bayi yang jarang menyusu atau mengalami kesulitan menyusu dapat mengalami penumpukan bilirubin karena proses pengeluaran melalui feses menjadi lebih lambat. Kondisi ini sering disebut sebagai breastfeeding jaundice dan umumnya membaik setelah pola menyusu membaik.
3. Faktor Genetik
Beberapa bayi juga memiliki faktor genetik, seperti defisiensi enzim G6PD, yang membuat sel darah merah lebih mudah rusak. Pada bayi dengan kondisi ini, kadar bilirubin dapat meningkat lebih cepat.
4. Riwayat Bayi Kuning
Riwayat bayi kuning pada saudara kandung sebelumnya juga meningkatkan risiko. Jika kakak pernah mengalami bayi kuning yang membutuhkan terapi, adik yang baru lahir perlu dipantau lebih ketat sejak awal.
Orang tua perlu memahami bahwa faktor risiko tidak selalu berarti bayi akan mengalami kondisi berbahaya. Namun, jika bayi memiliki satu atau lebih faktor risiko, orang tua dan tenaga kesehatan perlu memantau kondisi bayi secara lebih cermat agar peningkatan bilirubin dapat terdeteksi dan ditangani sedini mungkin.
Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?
Sebagian besar bayi kuning memang tidak berbahaya. Namun orang tua perlu segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan jika melihat tanda-tanda berikut:
Bayi tampak kuning sejak hari pertama kehidupan
Bayi menjadi sangat lemas atau tidak mau menyusu
Warna kuning semakin kuat dari hari ke hari
Kuning tidak berkurang setelah usia dua minggu
Bayi mengalami demam atau kejang
Hal ini perlu diperhatikan karena kadar bilirubin yang sangat tinggi dan tidak tertangani dapat menembus jaringan otak dan menyebabkan kernikterus, suatu kondisi langka tetapi serius yang dapat menimbulkan kerusakan otak permanen.
Bagaimana Cara Mengatasi Bayi Kuning?
Secara umum, langkah penanganan bayi kuning dapat dilakukan dengan cara berikut:
1. Menyusui Bayi
Pada kasus bayi kuning yang ringan dan masih tergolong normal, menyusui menjadi langkah paling penting. ASI membantu memperlancar buang air besar sehingga bilirubin dapat dikeluarkan dari tubuh bayi melalui feses.
2. Memantau Kondisi Bayi
Orang tua perlu mengamati perubahan warna kulit dan mata bayi, pola menyusu, serta tingkat keaktifan bayi. Pemantauan rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan membantu mendeteksi lebih dini ketika kadar bilirubin meningkat atau muncul tanda bahaya.
3. Fototerapi
Jika pemeriksaan menunjukkan kadar bilirubin melebihi batas aman, dokter akan merekomendasikan fototerapi. Terapi ini menggunakan cahaya biru khusus untuk mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan melalui urine dan feses. Fototerapi merupakan standar penanganan bayi kuning yang aman, efektif, dan telah digunakan secara luas.
4. Transfusi Tukar Darah
Pada kasus yang sangat berat dan jarang terjadi, terutama bila fototerapi tidak cukup menurunkan kadar bilirubin, dokter dapat melakukan transfusi tukar darah. Prosedur ini bertujuan menurunkan kadar bilirubin dengan cepat sekaligus mencegah komplikasi serius pada otak bayi.